satu jam bersama secangkir kopi

Hai…

Apa kabar kamu ?

Surat ini aku tulis karena untuk memenuhi janjiku di akhir bulan kemarin, aku berjanji untuk menuliskan beberapa kata tentang cuilan syurga yang selalu kau kunjungi, yah..aku tau kau seorang traveling, tapi asal kau tau saja bahwa aku bahkan tidak tau detail dari syurgamu itu. Maaf, bukan artikel tentang syurga yang kutulis, tapi surat rinduku tentang satu jam berdiskusi dengan kamu, dalam buaian dua cangkir kopi, satu kopi hitam untukmu dan satu cangkir capuchino untukku, di sebuah meja kecil di pojok sebuah rasi bintang di galaksi bimasakti.

Kau pasti akan suka dengan gaya tulisanku dalam mengirim surat kepadamu, dengan kata sok puitis yang sebenarnya kau fahami lebih dari aku. Aku tau itu, karena diakhir bulan kemarin, saat aku dan kamu berada di satu meja kecil berhias dua cangkir kecil kopi, kamu selalu saja membahas tokoh-tokoh terkenal. Sebut saja, Soe hok gie, Tan malaka, Pramoedya ananta toer sampai Sujiwo tejo dan lain sebagainya. Kamu selalu meceritakan hal-hal seperti itu, entahlah kau memang faham atau sama sepertiku yang sok faham. Haha

Kamu dan aku beberapa kali tertawa akan diskusi-diskusi kecil sampai hal-hal lucu seperti tentang kamu yang sering kesal dengan lalu lintas di negara kita, tapi kau sendiri malah suka melanggar lalu lintas, atau tentang bagaimana penduduk di negeri ini sangat menyepelekan kesehatan tapi kamu sendiri bisa menghabiskan bergelas-gelas cafein dalam satu waktu. Yah, aku tau kalau aku sendiri penyuka cafein dalam bentuk kopi dan teh, tapi kamu tau sendiri kan, aku lebih mendingan, aku sihhh suka kopi instan yang kopinya abal-abal atau yang tidak pekat seperti kopi hitammu, malah aku suka yang ada embel-embelnya seperti capuchino atau mocachino, kamu tau kan alasanku. Yup, biar aku lebih bisa banyak bicara dengan kamu tanpa mengkonsumsi Antasida. Hehe

Ohiya, apakabar scribd drama kita ? Kalau kamu pasti suka drama tentang nasionalis, tapi beda denganku yang suka drama musikal sampai drama tentang kerajaan bagai di Disneyland, bagaimana kalau kita combine saja ? Nasionalis bermusik Disney ? Haha, kamu pasti mengerenyitkan dahi karena ide konyolku.

Jika surat ini kamu visualkan seperti ketika kamu dan aku bertemu di satu meja kecil, pasti sekarang kopimu tinggal separuh, bukan karena kamu minum semua, karena aku yakin, laki-laki macam sepertimu pasti akan menyesapnya pelan-pelan dan dalam-dalam sambil membayangkan beberapa ide muncul yang akan kamu ketik di tuts-tuts laptopmu yang menyala itu. Jadi, kenapa tinggal separuh ? Aku yang meminumnya, aku penasaran saja dengan rasanya, sama-sama ingin tau bagaimana kamu mencipta dunia di secangkir pekatnya kopi. Memang, tak perlu yang mahal untuk membuat berkesan, kopi dari tangan baristamu cukup menjadikan satu jam diskusi kita menjadi hangat.

Aku ingin cerita ke kamu, kemarin aku membaca tentang cerita pewayangan yang ditulis oleh Sujiwo tejo. Yah..curang banget ya kamu, kamu sudah liat mbah jiwo memainkan jarinya menyusun cerita di wayang-wayang rama, sinta dan rahwana. Emm..kembali kecerita, menurutmu ? Kamu mau jadi team rama atau team rahwana ? Dua-duanya sangat mencintai sinta, tapi rama punya wajah bak malaikat dan itu setara dengan sinta yang punya wajah bagai bidadari. Tapi rahwana ? Dia adalah raksasa jelek yang sangat mencintai sinta, meskipun sinta berubah-ubah wujud, rahwana tetap cinta ke sinta. Itu sedikit tentang cerita ramayana. Jadi kamu team yang mana ?. Mungkin begitulah hidup ya, seperti kopimu yang pahit, dalam dan hangat. Bahkan jatuh cinta saja tidak harus memiliki, cukup ada didekat kamu saja sudah bahagia. Yup, semacam lagunya mbak Raisa “ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu di dekatmu”, wkwk, analogi yang baik kan. Yah itu yang aku rasakan, cukup jadi teman diskusi gila mu.

Biasanya didalam diskusi, kamu selalu saja pamer terhadap keberhasilanmu, aku selalu kesal. Bukaaann, bukan karena kamu selalu jadi superior, tapi sebenarnya aku juga bisa seperti kamu, yakin deh. Cuma takdir saja yang belum berkehendak. Haha, jadi kamu jangan sombong ya.

Hmmm…mengenai lagu Raisa tadi, bagaimana kabar perempuan yang kamu ibaratkan seperti sinta-juliet-laila versimu ? Yah sinta-juliet-laila era ini, yang punya bakat seperti kartini, yang sekuat cut nyak dien dan sebahagia ending cerita putri raja dan bermuka titisan syurga. Aku iri saja dengan dia, beruntung sekali dia punya teman diskusi seperti kamu, yang sok tapi juga mengerti banyak hal.

Selamat menyesap kopi sambil membaca suratku ya, semoga kita bisa bertemu dilain waktu, see you on top.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s