Hakikat seorang pemimpin

image

“sesungguhnya Allah menciptakan manusia agar menjadi khalifah di bumi”

Yah..kata-kata itu pasti tidak asing didengar oleh orang islam, bahkan saya juga sangat mengingatnya saat guru dan ustadz saya dulu menerangkan tentang bab itu.

Yup ! khalifah, mungkin kebanyakan orang lebih mengenalnya dengan kata “pemimpin” atau seorang yang bisa berkuasa tentang apapun dan orang yang memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang besar.

Mungkin, ilmu saya tidak sebanyak teman-teman saya saat ini yang mereka adalah notabene lulusan pondok pesantren besar, dan saya malah hanya santri disebuah pesantren kecil yang mungkin tidak akan terkenal, dulu juga saya seminggu sekali pulang kampung, bahkan saat ustadz saya menerangkan bab agama juga saya termasuk santri yang “ngantuk-an”, yah itulah saya. Haha, tapi ada satu hal yang nyerempet di otak saya tentang bab ini.

Tentang menjadi seorang pemimpin, hakikat pemimpin adalah orang yang dapat mengendalikan sesuatu, yang memiliki tanggung jawab dan kewajiban dengan tujuan tertentu. Lantas, apakah pemimpin adalah seseorang yang selalu punya bawahan atau anak buah ? tentu saja Ya. Tapi kata ustadz saya, menjadi pemimpin yang baik itu dimulai dari memimpin dirinya sendiri, yang mana anak buah kita adalah seluruh tubuh kita. Dan itu berbicara lebih jauh tentang bagaimana kita memimpin hati kita, pikiran kita, akhlak kita, agama dalam hidup kita, ucapan kita, perbuatan kita, nafsu kita dan lain sebagainya. Tak terkecuali dengan iman dan islam kita. Toh kita mempunyai kewajiban dan tugas yang sangat besar dari Allah, yaitu hablum minallah dan hablum minannass, yaitu kewajiban kita berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan manusia.

Contoh kecilnya, kita diberi kewajiban oleh Allah tentang menunaikan shalat lima waktu. Nah..apakah kita pernah bertanya pada diri kita sendiri kalau sholat aja masih jarang, tapi mau menjadi pemimpin ? itu kewajiban mendasar lhoo dan itu baru satu kewajiban, belum kewajiban yang lainnya. Itu tentang menjalankan tugas sebagai pemimpin untuk diri sendiri dan yang pasti belum memimpin banyak orang yang mungkin mempunyai sifat yang berbeda dari kita.

Contoh lain dari hablum minannass. Dalam islam sesama muslim diwajibkan untuk saling bersilahturahmi, dan salah satu arti dari bersilaturahmi adalam berbuat baik kepada sesama manusia. Jadi apakah kita sudah pantas untuk menjadi pemimpin kalau kita masih di selimuti rasa benci dengan sesama kita ?. Berbuat baik juga tentang bagaimana menjaga perasaan sesama kita, tidak menyakiti, saling menghargai, saling memaafkan, saling mengingatkan dan masih banyak lagi.

Gak kebayang kan, bagaimana susahnya memimpin banyak orang jika kita belum berhasil memimpin diri kita sendiri, padahal memimpin diri sendiri adalah tentang bagaimana mengsinkronkan antara bagian-bagian diri kita, dan itu belum mengsingkronkan atau menyatukan orang-orang banyak yang pastinya memiliki kepribadian yang beda dengan kita, pemikiran yang berbeda bahkan tujuan yang berbeda pula.

Maka dari itu, saat kamu merasa sedih tidak diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam suatu tim, mungkin saja Allah belum memberimu sebuah kepercayaan yang lebih, ehh….tapi itu bukan berarti lawanmu itu lebih baik atau lebih buruk dari kamu. Kalau yang ini beda masalah, pasti ada rahasia dibalik ini semua. tetap khusnudzon, sabar dan ikhlas. Jangan bersedih juga meskipun kamu telah membuat banyak plan-plan bahkan impian-impian indah jika kamu menjadi pemimpin tetapi Allah menakdirkan yang berbeda dari ekspektasimu. Cukup simpan baik-baik dan kembangkan, siapa tau nanti masih bisa kamu pakai.

Toh itu semua bukan berarti kita tidak menjadi pemimpin kan, kita masih bisa memimpin diri kita dulu, memperbaiki diri kita sendiri dulu, memantaskannya agar dapat menjadi pemimpin yang lebih besar nantinya. itung-itung buat latihan sebelum menjadi pemimpin yang tangguh, besar dan bijaksana. Sabarrrrr….tidak ada yang sia-sia saat menjadi pemimpin dirinya sendiri.

Saya sendiri juga belum bisa menjadi pemimpin yang baik untuk diri saya sendiri, masih banyak kekurangan dalam diri saya. Termasuk mengendalikan perilaku, hati, pikiran dan nafsu saya. Kalu di psikologi adalah cara menyeimbangkan antara Id, Ego dan Super ego, maka dari itu, ayolah sama-sama berusaha untuk menjadi pemimpin diri kita sendiri, kalau sudah baik dalam memimpin diri kita sendiri (meskipun tidak akan sempurna, karena kita juga manusia) insyallah kita juga akan menjadi pemimpin yang baik juga untuk lainnya.

Jadi jangan bersedih. kita akan selalu diberi kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin oleh Allah, khusnudzon saja dan yang pasti sabarrr dan ikhlas.

la tahzan, innallaha ma’ana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s